Sekilas Tentang Kuta
Pada waktu saya berkunjung ke Kuta, di beberapa tempat terlihat dijaga oleh beberapa anggota ABRI. Ya, Bali dalam kondisi siaga satu, karena satu hari yang lalu teroris melakukan pengeboman dua hotel ternama di kawasan Kuningan Jakarta. Semua orang khawatir akan terjadi pengeboman serupa di Bali seperti peristiwa pengeboman di Legian Kuta beberapa tahun yang lalu. Peristiwa bom bunuh diri yang menimbulkan banyak korban terutama wisatawan mancanegara.
Pada tahun 1834, seorang pedagang bernama Mads Lange mendarat di Pulau Lombok. Pria kelahiran Denmark 18 September 1807 ini melakukan usaha dagang rempah-rempah. Terjadinya perang antara Kerajaan Karangasem dengan Mataram menyebabkan usaha dagangnya sepi kemudian mengalami kebangkrutan. Dengan berbekal sisa modal yang ia miliki, Mads Lange pergi ke Pulau Bali. Mads Lange mendarat di Kuta melalui Sungai (Tukad) Mati yang pada waktu itu masih bisa dipakai berlayar. Disamping piawai dalam berdagang, Mads Lange juga dikenal pandai menyesuaikan diri sehingga ia mudah diterima oleh masyarakat nelayan di Kuta. Mads Lange menjadi perantara dagang antara raja-raja di Bali dengan pedagang dari luar negeri, bahkan Raja Kesiman memberi kekuasaan kepada Mads Lange untuk melakukan ekspor rempah-rempah. Kepiawaiannya dalam berdagang membawa dampak sangat baik bagi perdagangan di Kuta, sehingga menjadikan Kuta sebagai pusat perdagangan yang sangat ramai. Mads Lange meninggal secara misterius, kemudian jasadnya dikubur di dekat Sungai Mati. Nama Mads Lange kemudian diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kuta.
Pada tahun 1931, datanglah seorang wanita Amerika yang mencatat kesenian dan keindahan Bali dalam sebuah buku berjudul Island of Bali. Sejak saat itu Kuta semakin populer di kalangan wisatawan mancanegara. Seiring dengan perkembangan Kuta sebagai objek wisata, dibangunlah fasilitas-fasilitas pariwisata di Kuta dan sekitarnya.
Pantai Kuta dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi, taksi, atau angkutan umum yang biasa disebut Komotra (Koperasi Angkutan Mobil Transpor). Wisatawan yang akan mengunjungi Pantai Kuta dengan bus pariwisata harus turun di Sentral Parkir yang berjarak kurang lebih 4 kilometer dari Pantai Kuta. Kendaraan-kendaraan besar seperti bus pariwisata tidak diizinkan masuk dan parkir di sekitar Pantai Kuta karena lalu lintas jalan-jalan di Kuta sangat ramai sehingga kendaraan-kendaraan besar akan menyebabkan kemacetan yang mengundang ketidaknyamanan pengunjung. Dari Sentral Parkir pengunjung bisa naik angkutan umum (Komotra). Sisi kanan dan kiri Komotra merupakan jendela tanpa kaca yang berukuran cukup besar sehingga para penumpang bisa leluasa melihat ke sekeliling jalan yang dilewati. Komotra bisa memuat 25 orang sekaligus dalam sekali jalan. Tarif Komotra dari Sentral Parkir ke Pantai Kuta atau sebaliknya dari Kuta ke Sentral Parkir adalah Rp 3.000 per orang. Kalau perjalanan lancar Sentral Parkir-Pantai Kuta bisa ditempuh dalam waktu 15-20 menit. Menjelang sore hari jalan menuju pantai macet sehingga perjalanan bisa sampai 30 menit atau lebih.
Seperti halnya pantai-pantai lain di Pulau Bali, pengunjung bisa memasuki Pantai Kuta tanpa membayar tiket masuk. Sore ini pengunjung sangat ramai, rupanya isu flu babi dan bom tidak membuat mereka takut dan mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke pantai ini.
Di pagi hari, para wisatawan bisa menikmati keindahan laut dan udara segar sambil berjalan-jalan di tepi pantai. Pada saat matahari bersinar terang banyak wisatawan mancanegara menghangatkan diri dengan berjemur di pantai ini. Bagi sebagian orang, kegiatan berjemur ini bisa menjadi hiburan tersendiri.